Selasa, 10 September 2019

Ingin Pulang



Aku memang lemah.

Ini bukan yang pertama kalinya aku merantau. Tapi kok tetap berat.
Tetap sulit. Tetap rumit.

Padahal aku sudah cukup berpengalaman dalam hal ini.
Tapi kok bisa ?


Sesuai permintaanku. Orangtuaku tak ikut mengantar , aku hanya tak mau membebani mereka. Karena untuk kemari , harus memiliki uang yang cukup. Bukan untuk poya-foya. Untuk ongkos pun harus menyiapkan cukup banyak.
Dan aku sadar , itu tak mudah bagi mereka.
Aku mengerti.


Akhirnya aku pergi sendiri.


Aku kira semuanya akan baik-baik saja. Dengan perginya aku ke negeri orang aku bisa menghindari bising nya rumah tangga di rumah,
Bisa menghirup udara baru , yang membuatku setidaknya merasa lebih tenang. Merasa lebih tentram.
Tanpa ada cerewet nya ummi yang selalu memaksaku untuk makan,
Marahnya abi saat tau kalau aku belum tidur saat hari sudah larut, dan pertengkaran-pertengkaran kecil antara adik2 ku , bahkan tak jarang akupun selalu ikut terbawa emosi.

Dan yang paling penting, aku tak ingin melihat Ummiku dimarahi abi, selalu disalahkan olehnya.
Sesak rasanya saat ummi bercerita tentang itu, bukan aku tak ingin mendengarkan ceritanya. Bukan aku tak ingin memberi kekuatan kepadanya, ingin sekali. Tapi aku belum tau caranya bagaimana.
Dan aku baru bisa mendengarkannya.
Itupun dengan rasa sesak.


Tapi , nyatanya. Disini aku hanya mendapat sepi.
Aku rindu semua suasana itu.
Aku belum faham betul apa yang membuat aku gak nyaman disini.

Sebenarnya aku belum memiliki kenyamanan. Ada yang aku takutkan.
Aku takut ayahku membiayaiku banyak disini, tapi aku tak bisa apa2 karena diriku yang terlalu pasif


Entah hanya rindu biasa sebagaimana dulu aku awal mondok ,
atau karena aku gak betah ?
Atau karena gak cocok ?


Ah yang jelas aku rindu suasana lalu.


Aku berharap ini hanya rasa saat adaptasi saja. Semua akan membaik sebagaimana dulu aku selaku menangis saat awal mondok di Tasik.

Aku tak ingin kecewakan abi yang telah memberiku banyak dukungan termasuk dalam hal materi..
Ummipun sama, dia senantiasa memberiku segalanya, segalanya.
Kakak ku..yang selalu memberiku semangat.  Adik2ku.
Juga tetangga-tetanggaku.
Keluarga besarku.
Teman-temanku.
Dan guru-guruku.
Mereka berharap agar aku menjadi seorang ahli ilmu.

Ah malu sekali rasanya jika aku kembali tanpa mendapat apa-apa.


Aku hanya berharap, Allah meridhai langkahku.
Permudah urusanku.
Lancarkan rezeki ummi Abiku.
Berilah kesehatan dan rahmat untuk mereka.


Semoga setiap langkahku disini, menjadi titik awal aku untuk senantiasa beribadah . ini tujuanku. Aku harus yakin.


I miss you ummi abii , my family.
Depok, 11 september 2019


ASING

Siapa aku ?
Hari ke-13 di negeri orang.


Aku , Didah pingdi Hamidah. Orang yang sudah mengenalku tentu tau siapa aku, tau bagaimana aku, tau darimana aku.. Tau seperti apa aku..

Tapi disini, tak ada seorangpun yang mengenalku. Tidak ada sama sekali.

Termasuk diriku sendiri.

Asing memang,,,
Aku tidak menemukan diriku yang ceria dan penuh tawa.
Aku tidak menemukan diriku yang aktif dan selalu optimis.
Aku tidak menemukan diriku yang tegas dengan suara lantang.
Aku tidak menemukan diriku.

Aku kehilangan jejak.

Yang ada hanya seorang Didah yang lungguh, Didah yang pemalu, Didah yang sayu , Didah yang selalu ragu.

Aku kehilangan diriku sendiri.