Jumat, 26 Mei 2023

Jadwal Kultum

"Didah besok bisa..? " tanya ustadz Ihsan dihari kamis.

Memang, di Yakesma sebelum jam pulang, semua karyawan harus berkumpul di ruang tengah untuk doa sore dan kultum. Aku sempet ditawari menjadi petugas, beberapa kali. Dan semua itu, kutolak. Karena waktunya yang kurang pas. 

Selasa, 23 Mei 2023

Mengejar Maghrib

Hari ini buku bakti sebi jadi.

Ko jadi banyak yang pengen disampein

Nuri gamasuk, soalnya ujian Tahfizh 

Minggu, 21 Mei 2023

Terpaksa Lembur

Selasa, 16 Mei 2023 

Seperti biasa, mendekati waktu pulang sembari menunggu doa bersama aku bergegas merapikan barang-barangku. Waktu maghrib yang bergeser lebih awal membuatku harus lebih cepat dan cekatan di jalan pulang. Karena Halaqah Tahfizh pun ikut bergeser, telat beberapa menit saja dari jam 5, bisa telat juga jamaah maghrib dan Halaqah tahfizh di pesantren. 

Tadinya aku berniat untuk mengajukan diri pada pa Anggi agar jam masuk ku diawalkan saja setidaknya setengah jam dari temen-temen magang yang lain. Agar aku juga bisa pulang lebih awal. Alasannya sederhana, agar tidak terlambat Jamaah dan Halaqah tahfizh di pesantren, apalagi aku dapat jadwal imam Maghrib. Namun rencana itu kuurungkan, lagi dan lagi.

Mc membuka agenda penghujung hari itu di kantor. Selama agenda berlangsung, tidak seperti biasanya Nuri yang duduk tepat disampingku masih sibuk dengan kertas, pinter, dan hekter. Pun PIC nya, pa Anggi. Keduanya terlihat sibuk sampai doa berakhir. "Nuri bisa temenin saya selesaikan ini dulu ga..?" Tanya pa Anggi. "Bisa pa." jawabnya. 

Karena waktu belum menunjukkan pukul 17.00, aku belum berani beranjak pergi dari kantor. Sampai Akhirnya ada kesalahpahaman "Didah, nungguin Nuri ya..? Sekalian saya minta tolong bisa ga." tanya pa Anggi. Nuri menatapku, dan aku faham maksud tatapannya. Namun menjawab 'tidak' pada orang lain masih menjadi hal yang cukup sulit bagiku. 





Laporan Magang

 Bikin cerpen

Kamis, 04 Mei 2023

Bersama Hujan

Sore ini, Jakarta diguyur hujan (lagi). 
Rintik hujan menjadikan sebagian orang memilih menunggu reda, dan sebagiannya lagi buru-buru pulang. Sama saja seperti biasanya. Tapi anehnya, kemacetan saat hujan turun malah semakin terasa.

Sore ini, Jakarta diguyur hujan (lagi).
Perjalanan ditengah hujan memang selalu mendebarkan. Sesekali senyum sendiri.

Tidak, tidak. Aku tidak sedang mengingat cerita romantis seperti di film-film antara sepasang kekasih ditengah hujan.
Seingatku, aku tak punya cerita itu.

Ya, karena bukan tentang kenangan dikala hujannya, tapi ditengah guyuran air hujan memang rawan untuk mengorek-ngorek kenangan.
Ditengah guyuran air hujan, fikiran ini lincah mengulik cerita-cerita yang sangat beragam.
Tentang keluarga, teman, rindu, dan kamu.
Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyesakkan.

Tapi sungguh, tak masalah. 
Itu sudah menjadi warna dalam cerita ini. M